Sidang Penggelapan Duit Rp.17 M, Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Djoko Soedibyo

BANDAR LAMPUNG GS – Sidang dakwaan perkara penipuan dan penggelapan duit Rp17 miliar milik korban Sugiharto Hadi dengan terdakwa, Djoko Soedibyo kembali digelar di PN Tanjungkarang, Bandar Lampung. Kamis (29/7/2021).

Ketua Majelis Hakim, Hendro Wicaksono melanjutkan persidangan perkara penipuan pembayaran pajak dengan terdakwa Djoko Soedibyo.

“Sidang kita lanjutkan dengan terdakwa Djoko Soedibyo”. Katanya dalam persidangan dengan agenda putusan sela di Pengadilan Negeri Kelas I Tanjungkarang, Bandar Lampung.

Keputusan untuk melanjutkan sidang perkara penipuan dengan modus pembayaran pajak tersebut lantaran sebelumnya penasihat hukum terdakwa mengajukan eksepsi.

Penasihat hukum terdakwa, Indra Jaya dalam perkara tersebut akan menghadirkan saksi ahli untuk membuktikan bahwa perkara kliennya adalah perkara perdata.

“Perdata atau tidak kami akan membuktikan bahwa perkara ini masuk dalam perdata. Pekan depan kami akan hadirkan saksi ahli”. Kata dia.

Sebelumnya terdakwa penipuan, Djoko Soedibyo melalui penasihat hukumnya, Indra Jaya memohon kepada majelis hakim agar dapat dikabulkan terkait penangguhan penahanan.

Selain itu dalam eksepsi sebelumnya, ia mengajukan kepada majelis hakim bahwa perkaranya adalah murni perkara perdata melainkan bukan lah perkara pidana.

Terdakwa Djoko Soedibyo menjalani sidang atas perkara penipuan dengan modus membantu pembayaran pajak terhadap korbannya.

Peristiwa tersebut berawal pada bulan November 2011 saat saksi Sugiarto Hadi selaku Direktur PT Sumber Urip Sejati Utama yang berada di Jalan Wolter Monginsidi, Bandarlampung, mendapat surat panggilan dari penyidik pajak pusat Jakarta atas dugaan penunggakan pajak PPN sebesar 34 milyar sejak tahun 2009 hingga 2011 yang dilakukan PT Sumber Urip Sejati Utama.

Atas permasalahan pajak, Sugiarto menghubungi terdakwa Djoko Soedibyo untuk menyelesaikan permasalahannya dikarenakan terdakwa merupakan seorang rekan bisnis pupuk PT Sumber Urip Sejati Utama.

Terdakwa melakukan pertemuan di Jakarta dan saat itu ada Rida Handani selaku Kasubdit Pemeriksaan Pajak untuk menjelaskan terkait pajak dan mengatakan kepada Sugiarto agar mengembalikan kerugian negara sesuai dengan faktur pajak.

Mendengar itu, terdakwa meminta kepada Sugiarto agar menyiapkan uang sebesar Rp.13.500.000.000 serta uang jasa pengurusan pajak sebesar Rp.3.500.000.000.

Setelah uang diterima, terdakwa hanya membayarkan pajak untuk tahun 2009 sebesar Rp.1.534.604.870, yang seharusnya untuk tahun 2009 sebesar Rp.4.209.402.552. (red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 14 = 17